Yogyakarta - BEM KM Universitas Gadjah Mada (UGM) berkolaborasi dengan Kementerian Desa PDTT turut memperingati Hari Sumpah Pemuda melalui Kongres Abdi Desa bertema “Sinergi Sumpah Pemuda dalam Membangun Pedesaan: Menginspirasi Perubahan, Membangun Desa Berkelanjutan”. Kegiatan ini dihadiri lebih dari 200 peserta di Auditorium MM UGM, Yogyakarta, Sabtu (28/10/2023).


“Kongres ini ditujukan untuk mendorong nilai pemerintah responsif, aset inklusif, dan warga aktif dalam merespon eksistensi desa hari ini,” sambut Menteri BEM KM UGM, Isroq Adi Subakti.


Kegiatan diawali dengan seminar nasional oleh Staf Ahli Bidang Pembangunan dan Kemasyarakatan Kementerian Desa PDTT, Bito Wakantosa. Pada pemaparannya, Bito merekam dinamika regulasi, digitalisasi, hingga peran pemuda dalam pembangunan desa yang berkelanjutan.


“Definisi desa adalah cacat politik yang serius, demikian pun desa di reduksi dengan proyek dana desa yang berperspektif sektoral,” ujar Bito.


Bito menjelaskan bahwa desa harus dilihat dari potensi ruang mikro. Demikian pula, diskursus digitalisasi desa bukan dinilai dari mendatangkan alat-alat teknologi, namun dimulai dengan menciptakan budaya digital itu sendiri.


“Budaya harus menjadi identitas penggerak sehingga berjati diri dalam kebudayaan, berdaulat dalam politik, dan berdikari dalam ekonomi,” sambung Bito.


Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Kawasan Transmigrasi Kementerian Desa PDTT, Sigit Mustofa turut menambahkan bahwa realitas ini tidak terlepas dari persoalan aksesibilitas pada desa-desa di Indonesia, khususnya desa di luar Pulau Jawa.


“Kalau berbicara tingkat kecerdasan, mereka sama seperti kita. Tapi, perbedaannya ada di akses,” tambah Sigit.


Lebih lanjut, Kementerian Desa PDTT berkomitmen terhadap isu digitalisasi desa tersebut. Program Desa Inklusi digagas untuk menciptakan perubahan organik bagi desa-desa di Indonesia. Secara digital, Kementerian Desa PDTT pun telah memfasilitasi aplikasi Desa Wisata Nusantara yang dapat diunduh di App Store dan Play Store.


“Kemendes sudah masuk ke ekosistem digital desa, kita hadirkan aplikasi ini untuk memviralkan layanan baru desa-desa di Indonesia kepada turis lokal maupun dunia,” ucap Sigit.


Demikian pula, Bito menyebutkan bahwa pemuda-pemudi desa bukan hanya subjek yang otonom, tetapi aktor penggerak kelembagaan dinamis dan budaya adaptif sebagai kader desa maupun pendamping organik.